Wilispost.com- Pemerintah RI memperpanjang izin tambang Freeport di Papua, sehingga kepemilikan saham Indonesia akan meningkat menjadi 63% pada tahun 2041, naik dari 51% saat ini.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa tambahan 12% saham ini akan dialokasikan kepada pemerintah daerah penghasil tambang di Papua, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung masyarakat setempat.
"Dalam rencana perpanjangan nanti negara akan mendapatkan tambahan 12% saham tanpa biaya akuisisi langsung. Jadi kepemilikan Indonesia naik menjadi 63%," kata Bahlil dalam konferensi pers penjelasan implementasi kesepakatan dagang RI–AS dari Washington secara online Jumat 20 Februari 2026 malam waktu setempat.
Tambang Freeport saat ini memproduksi sekitar 3,2 juta ton konsentrat tembaga per tahun, menghasilkan 900 ribu ton tembaga dan 50-60 ton emas.
“Puncak produksi diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030-2035, sehingga penting menjaga keberlanjutan operasinya untuk memastikan penerimaan negara tetap optimal,” kata Bahlil dikutip (22/2).
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan perusahaan siap menjalankan penugasan pemerintah dalam skema impor energi tersebut. Ia menilai kerja sama ini merupakan langkah transisi menuju ketahanan energi nasional.
"Impor ini adalah jembatan menuju kemandirian energi. Sambil kita meningkatkan produksi domestik, kebutuhan nasional tetap harus terpenuhi," ujarnya.
Pertamina menjajaki kolaborasi dengan ExxonMobil, Chevron, dan Halliburton untuk transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM.
"Kerja sama ini bukan hanya suplai energi, tapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta penerapan best practice industri migas dunia," katanya.